| — | Anaïs Nin (via misswallflower) |
pagi ini begitu sunyi
bising suara air seakan mengerti arti duka cita
suara asing yang biasa ada pun, bisu.
ini hening? atau hanya sayap yang lagi-lagi patah?
aku meniru burung yang terbang tanpa sayap berkembang
meniru kucing yang tetap berlari dengan kaki rusak
sakitkah? tidak terlalu. aku terbiasa sebelumnya.
cerita ini munafik. aku belajar ikhlaskan.
kamu tau ikhlas? aku bermakna lain.
aku muak, bahkan tak ingin pergi.
oh ya, matahari terik dan menusuk kulit menurutmu?
pagi ini dia bahkan berduka.
bentuknya acak, lalu? ya, tak berpancar.
seperti aku ya? Bohong jika tidak.
aku hanyalah batu yang hancur karna debu.
debu yang hilang saat hujan datang
intinya aku tidak pernah benar-benar rasakan.
Tuhan marah? apa maksudnya?
beri aku pelajaran yang lebih mudah.
agar tidak hujan, dan basah lagi.
akhir?
iya, bahkan tidak sama sekali dimulai.
-miu
entah hari ini bagaimana
aku remuk
aku hancur seiring terik
cuacanya meredup, namun hatinya gersang
adakah salah dalam hadirnya?
mengapa di pertemukan bila hanya untuk berpisah?
tidakkah ini percuma Wahai Pemilik Alam?
pintaku hanya ingin burung terus menari
awan terus putih, dan langit tetap biru.
salahkah? terlalu banyak mengeluh kah?
aku coba bertahan Tuhan.
kuatkan.
-miu
disini aku bersisian sebagai kupu-kupu
berawal dari keburukkan yang menjijikkan aku lahir..
tahukah saat aku mencoba berubah dan mendapatkan keindahan?
letih.. hancur.. sampai akhirnya aku terbang

di awan yang berukir aku berkuasa penuh atasku
mencoba singgah saat bunga mekar
mencoba menari atasnya..
lalu berbagi keindahan untuknya
sesaat sayapku mekar seperti bunga itu
terbang.. membawa kasih.. lalu bahagia
setelah bunga merejang nyawa dengan layunya dedauan
akupun mati. aku mati
dalam mimpi sayap ini menggumam
“Tuhan. Kau terbangkan aku terlalu tinggi.
bunga itu habiskan nyawaku dengan harumnya”.
kematian berawal dari habisnya cinta bunga pada kupu-kupu
bukan!
namun berawal dari usainya nafas bunga pada “sayap kupu-kupu”
terjatuh dari langit bebas Sang Penguasa
sayapnya lemah.. hancur.. lalu? ya. mati.
mendarat pada sebuah perkampungan kumuh tanpa cinta.
terinjak. lalu selesai

-miu


